Tim Jelajah 54 TN Indonesia Bantu Petugas BTN Gunung Merbabu Evakuasi Pendaki

Selo, 28 April 2019. Tim Jelajah 54 TN Indonesia, tanggal 26-27 April 2019 melakukan pendakian di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) melalui jalur Selo (Genting) untuk melihat trend berlomba mendaki mencapai puncak-puncak gunung. Sekaligus pembuktian pembenahan pengelolaan pendakian setelah viralnya video “kemacetan” jalur pendakian TNGMb di media sosial beberapa saat lalu.  Diantaranya juga persiapan pemakaian “chip” oleh para pendaki ke Gunung Merbabu. Aktifitas pendakian ini merupakan salah satu hal yang menjadi konsen Tim Jelajah 54 TN untuk dikupas. Selain tentunya untuk melihat bentang alam gunung Merbabu yang memang sangat cantik dengan padang sabana dan panorama alam sekitarnya. Semua aktifitas Tim didampingi langsung oleh petugas Balai TN Gunung Merbabu. 

Saat turun menuju Pos 3 dari camp Sabana Dua, 27 April sekitar tengah hari, tepat di jalur terjal, petugas Balai TN Gunung Merbabu dan tim Jelajah 54 TN Indonesia, mendapat kabar kalau ada pendaki yang mengalami kaki terkilir cukup parah sehingga sulit untuk melanjutkan perjalanan turun. Korban seorang pria bertubuh tambun yang ditinggal rekan-rekannya yang telah turun lebih dulu. Petugas Balai TN Gunung Merbabu, relawan dan tim Jelajah 54 TN Indonesia pun dengan sigap segera menolong korban.

Setelah penanganan awal, kemudian korban ditandu turun menuju kantor Resort Selo. Medan pendakian yang cukup terjal dan sempit pada beberapa bagian serta beratnya korban, sedikit menyulitkan tim evakuasi. Alhamdulillah, berkat kerjasama tim evakuasi yang baik, sebelum gelap,  korban berhasil dievakuasi hingga tiba di kantor Resort Selo untuk kemudian dibawa oleh unit tim patroli Balai TN Gunung Merbabu menuju unit pelayanan kesehatan terdekat.

Kemudian rekan sependakian korban diberi nasihat oleh Kepala Resort Selo, Sutopo,  yang juga ikut mengevakuasi korban. 

“Ini merupakan rekor terberat di pendakian TN Gunung Merbabu, dengan berat korban mencapai 120 kg. Memikul korbannya sangat berat”, ujar pak Sutopo di ruang kantor Resort Selo.

Menurut Sutopo, apapun alasannya, tidak boleh meninggalkan rekan sepedenkian. Seharusnya, tim harus tahu keadaan semua anggotanya.

“Setiap tim mendaki gunung, harus ada jiwa korsa yang diterapkan. Jangan sampai teman sakit ditinggal. Jadi kalau ada anggota tim yang sakit, salah satu atau dua yang turun melapor ke petugas. Selebihnya menemani korban sampai tim evakuasi tiba. Lebih bagus kalau anggota tim yang lain dapat memberi pertolongan pertama”, lanjut pak Sutopo.

Sekitar pukul 20:30 WIB, tiba-tiba kantor Resort Selo didatangi serombongan tim pendaki yang menggendong rekanya, seorang wanita berusia 19 tahun yang tidak sadarkan diri. Korban langsung dibawa ke ruangan. Medina Kamil dan Diana dari tim Jelajah 54 TN Indonesia dan petugas Balai TN Gunung Merbabu langsung menangani korban. Alhamdulillah, beberapa saat kemudian, korban sadar. Namun, masih mengalami sedikit sesak napas. Kemudian diberikan oksigen hingga korban merasa lebih lega untuk bernafas.

Diketahui, ternyata korban mempunyai riwayat penyakit asma dan typus. Dan saat memulai pendakakian kondisinya kurang fit. Dan menurut rekannya, sebelum mendaki, korban hanya makan sedikit roti.

“Sebelum mendaki gunung, sebaiknya pendaki harus perhatikan kondisi tubuhnya. Pastikan fisik dalam kondisi baik saat mendaki. Hindari mendaki malam hari, karena medan pendakian tidak terlihat. Butuh konsentrasi lebih. Oksigen juga lebih tipis, dimana saat malam hari tumbuhan biasanya mengeluarkan gas karbondioksida,” ujar Medina Kamil di kantor Resor Selo.

Ayo jadi pendaki gunung yang cerdas, bertanggung jawab, baik dan benar. Utamakan keamanan dan keselamatan serta ikuti aturan yag berlaku, baik lisan maupun tulisan saat hendak mendaki gunung. Gunakan jalur resmi pendakakian dan tidak menerabas batas pelestarian alam.

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu dan Tim Jelajah 54 TN Indonesia