Penanganan Karhutla di Gunung Merbabu

Boyolali, 14 September 2019. Kebakaran tajuk dan permukaan hutan kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu khususnya di wilayah Resort Pakis, Resort Wonolelo, Resort Selo dan Resort Ampel sampai detik ini belum diketahui penyebabnya karena masih dalam tahap pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket). Pihak Balai Taman Nasional Gunung Merbabu terus melakukan upaya penanganan bersama Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Relawan, SAR, TNI/Polri, Muspika, BPBD dan Masyarakat Lokal dengan jumlah total personil yang dikerahkan lebih dari 750 orang.

Tim tersebut bersiaga di 5 (lima) posko lapangan serta satu posko di kantor Balai (ampel/basecamp rempala, kopeng/basecamp thekelan, pakis/basecamp kedakan, wonolelo/basecamp suwanting, dan posko resort selo). Perkiraan luas areal terbakar sekitar 225 Ha berdasarkan prediksi overlay spasial (12/9) dengan medan lereng dan punggungan yang sulit dijangkau dan titik api terpantau berkurang menjadi 6 titik dipantau melalui satelit lapan hotspot information pada tanggal 13 September 2019, dengan prediksi luas areal terbakar 260 Ha (zona inti, zona rimba, dan zona rehabilitasi).

Awalnya terpantau 7 (tujuh) titik api besar dengan posisi menyebar, kemudian api mulai menjalar ke semua sisi gunung karena tiupan angin kencang yang melahap hutan alam, semak belukar dan sabana. Balai TN Gunung merbabu sudah melakukan upaya pemadaman secara manual untuk melokalisir terjadinya kebakaran yang lebih meluas serta membuat sekat bakar. Tim menggunakan peralatan lapangan berupa gepyok, sabit, cangkul, parang, jet shooter serta peralatan lain yang mendukung. Tim juga mengalami kendala sulit air serta harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari dusun terdekat untuk melakukan pemadaman.

Potensi gangguan akibat kebakaran hutan (karhut) adalah terganggunya distribusi air dari sumber mata air ke masyarakat Tuk Teyeng, Pakis Desa Ketundan, Tuk Klanting, Kopeng Desa Tajuk dan Tuk Sipendok, Ampel Desa Ngagrong serta Candisari. Desa yang terdampak langsung dari akibat terbakarnya pipa air yaitu Desa Ketundan, Desa Tajuk, Desa Ngagrong dan Desa Candisari. Saat ini, Kabupaten Magelang sudah meningkatkan status Darurat Bencana.

Balai TN Gunung Merbabu juga telah bersurat ke Direktur Jenderal KSDAE, Kementerian LHK untuk meminta bantuan helikopter guna mempercepat proses pemadaman (water bombing).

Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu