Boyolali, 17 Juni 2026 — Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) bersama Tim Riset Universitas Tsukuba, Jepang, menyelenggarakan kegiatan sosialisasi hasil penelitian Saninten (Castanopsis argentea) dan Tungurut (Castanopsis tungurrut) di Pulau Jawa. Kegiatan berlangsung di Dusun Guolelo, Desa Ngagrong, Kabupaten Boyolali, dan dihadiri oleh sekitar 35 peserta yang terdiri atas perwakilan Balai TNGMb, pemerintah desa, kelompok masyarakat, serta mitra konservasi di sekitar kawasan Gunung Merbabu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara pengelola kawasan konservasi, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung pelestarian tumbuhan langka asli pegunungan Jawa. Kepala Balai TNGMb yang diwakili oleh Kurnia Adi Wirawan, S.P., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penelitian mengenai Saninten perlu terus dikembangkan sebagai dasar penguatan upaya konservasi, baik melalui penelitian lanjutan maupun pengembangan pada jenis flora dilindungi lainnya di kawasan Gunung Merbabu. Pada kesempatan tersebut, masyarakat juga diajak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau serta berperan aktif dalam menjaga habitat alami Saninten.
Materi penelitian disampaikan oleh Alnus Meinata, S.Hut., M.Sc., Ph.D., yang menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 24 jenis Castanopsis, dengan dua di antaranya berstatus dilindungi dan terancam punah, yaitu Saninten dan Tungurut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Saninten masih ditemukan di berbagai kawasan pegunungan di Pulau Jawa, meskipun persebarannya cenderung menurun ke arah timur. Di Gunung Merbabu, Saninten ditemukan pada lereng timur, sementara di Gunung Merapi tersebar pada seluruh lereng. Perbedaan pola distribusi tersebut diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti iklim, kondisi habitat, vegetasi penyusun hutan, topografi, jenis tanah, hingga intensitas cahaya matahari.
Saninten diketahui tumbuh pada hutan pegunungan bawah dengan kisaran ketinggian 700–2.000 mdpl dan memiliki habitat optimal pada ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Berdasarkan hasil penelitian, Gunung Merbabu termasuk kawasan yang memiliki kondisi habitat yang sesuai bagi pertumbuhan dan pengembangan populasi Saninten. Oleh karena itu, tim peneliti merekomendasikan tiga strategi utama konservasi, yaitu perlindungan habitat alami, pemulihan populasi melalui kegiatan perbanyakan dan penanaman, serta penguatan pengelolaan dan monitoring kawasan secara kolaboratif bersama masyarakat.
Pada sesi berikutnya, Agus Sugianto, S.P., selaku Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TNGMb, memaparkan berbagai upaya konservasi Saninten yang telah dilaksanakan di kawasan Gunung Merbabu. Saninten merupakan tumbuhan asli pegunungan Jawa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 106 Tahun 2018 dan berstatus Endangered menurut IUCN. Di kawasan TNGMb, jenis ini memiliki nilai ekologis penting sebagai penyedia pakan satwa liar, penahan longsor, serta memiliki potensi pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.
Balai TNGMb bersama masyarakat telah melakukan berbagai kegiatan konservasi, antara lain pembangunan demplot penelitian, pengembangan persemaian, perbanyakan bibit melalui teknik cangkok, pemantauan populasi, hingga patroli perlindungan habitat. Berdasarkan pengalaman di lapangan, metode cangkok menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan perbanyakan melalui biji maupun stek.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Balai TNGMb dan Universitas Tsukuba berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pelestarian tumbuhan asli pegunungan Jawa sekaligus memperkuat kolaborasi dalam upaya konservasi spesies langka. Tim peneliti juga menyampaikan gagasan agar Taman Nasional Gunung Merbabu dapat dikembangkan sebagai pusat konservasi dan arboretum Saninten di Indonesia, sebagai bentuk penguatan konservasi ex-situ sekaligus pusat pembelajaran bagi generasi mendatang.






