Taman Nasional Gunung Merbabu, Jl . Merbabu, No.136 Boyolali
  • Name:Rekrekan/Presbytis fredericae
  • Position:-
  • Phone:-
  • WhatsApp:-
  • Email:-
  • Address:-

Pernah dengar legenda ‘Lutung Kasarung’? Ya…cerita tentang pangeran yang menjelma menjadi monyet (lutung). Tulisan ini tidak akan mengulas cerita rakyat Pasundan tersebut, tetapi mengangkat keberadaan jenis primata di Nusantara, salah satunya di Taman Nasional Gunung Merbabu.

ProFauna Indonesia (2012) menyebutkan bahwa di dunia terdapat sekitar 200 jenis primata (bangsa kera dan monyet) dan 40 jenis atau hampir 25 % diantaranya hidup di Indonesia. Sayangnya meskipun kaya akan jenis primata, 70% primata Indonesia tersebut terancam punah akibat berkurang atau rusaknya habitat primata dan penangkapan illegal untuk diperdagangkan. Sejak tahun 2000 badan konservasi internasional IUCN menerbitkan daftar 25 jenis primata yang paling terancam punah di dunia. Dari 25 jenis primata tersebut, 4 diantaranya adalah primata asal Indonesia yaitu Orangutan Sumatera Pongo abelii, Tarsius Siau Tarsius tumpara, Kukang Jawa Nycticebus javanicus dan Simakubo Simias cocolor.

Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) sebagai kawasan pelestarian alam-KPA, mempunyai fungsi sebagai habitat alami dari berbagai satwa liar termasuk primata. Berdasarkan Statistik Balai TNGMb 2023, tercatat ada sekitar 136 jenis fauna (mamalia, burung dan primata) dengan primata ada 3 jenis yaitu : Monyet-ekor panjang Macaca fascicularis, Rekrekan / Lutung abu Presbytis fredericae dan Lutung hitam Trachypithecus auratus. Monitoring populasi dan habitat primata di TNGMb dilakukan oleh petugas PEH TNGMb secara periodik, pada bulan Oktober 2012 dilakukan pendataan awal (baseline) populasi dengan hasil : 67 ekor Monyet-ekor panjang, 6 ekor Lutung budeng dan 15 ekor Rekrekan. Lokasi survei berada di jalur Cuntel (blok Menara), jalur Selo (blok Pandean) dan jalur Ampel (blok Tulangan-Ngagrong).

Rekrekan/Lutung abu Presbytis fredericae Sody, 1930

Merupakan salah satu primata endemik Pulau Jawa yang keberadaannya kian terancam. IUCN Red List 2011 menyatakan Presbytis fredericae termasuk kategori endangered  C2a(i) (Nijman dan Richardson, 2008). Satwa ini juga dikategorikan dalam highly threatened dalam The World’s 25 Most Endangered Primates 2012–2014 (Mittermeier dkk., 2012). Ancaman utama keberadaan satwa ini adalah kerusakan habitat (Nijman & Richardson, 2008). Diperkirakan habitat Surili Jawa di Pulau Jawa telah menyusut sekitar 96% dari semula 43.274 km2, kini tinggal 1.608 km2 (Supriatna dan Wahyono, 2000). Populasi Rekrekan Presbytis fredericae yang tersisa saat ini menempati fragmen-fragmen hutan pegunungan yakni di Gunung Slamet, Pegunungan Dieng (Petungkriyono), Gunung Sindoro – Sumbing, Gunung Merbabu serta Gunung Lawu (Haryoso, 2011; Nijman, 1997b; Setiawan dkk., 2010; Supriatna dan Wahyono, 2000).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *